RESPON

15 tahun lalu saya adalah caleg DPD RI, sebelum ke DPR RI. Saat itu saya meyakini dompet saya sedang kosong. Datanglah ke rumahku seorang kakek yang mengendarai sebuah sepeda.

Sepedanya sudah ringsek. Setirnya bergoyang, velk-nya berbunyi nyaring, sedalnya juga…pokoknya memprihatinkan sepeda itu. Hanya satu alat yang tidak berbunyi; bel atau klaksonnya. 😁

Turunlah bapak itu dari sepedanya. Saya sedang sibuk mengatur sendiri ribuan KTP yang terserak di lantai untuk pencalegan DPD RI. Melihat bapak itu menuju rumah saya untuk bertamu, maka sejenak saya hentikan aktifitas.

“Nama saudara Elnino?” saya sedang keheranan karena ternyata dia berbahasa Indonesia kepada saya yang terbiasa dengan bahasa Gorontalo sebagai bahasa pergaulan. Belum sempat saya menjawab pertanyaannya, mendadak dia berkata begini, “Elnino yang caleg, kan? Saya akan pilih saudara asal saudara kasih uang sama saya minimal Rp. 50 ribu.”

Ti bapu tiy eh. Pikirku. Sudah datang tidak ba salam, dan sok pula minta duit sama caleg. Saya keluarkan jurus memperlihatkan dompet. Toh dompet saya kosong, pikirku.

“Ti opa lihat saya pe dompet ini…ini kosong,” ucap saya sambil kaget ternyata di dompet saya berisi Rp. 20 ribu. Saya lalu buru² meralat, “Bagini saja opa, ini uang yang ada di dompet saya ini saya kasih sama ti opa dengan syarat,” kata saya.

“Apa syaratnya?”

“Ti opa basumpah pokoknya tidak mbapilih pa te Elnino.”

“Ih, kenapa begitu?”

“Bagini… yang bapilih pa te Elnino itu tidak pernah saya kasih apa². Kalau ti opa bapilih pa saya, mamali morusa reekeni liyo larena ti Opa saya pernah kasih uang.’

“Kalau begitu, deal, bo gampang, jadi saya dapat Rp. 20 ribu dan tidak boleh bapilih pa ente kan?”

“Siip. Deal-lah,” ucapku sambil menjabat tangaannya.

Kira² seminggu kemudian, seorang ibu menelpon nomor hape saya sambil menangis. “Alhamdulillah pak Elnino ada angka ini telpon…”

“Saya lagi waktu luang. Kiapa ibu so dapa dengar manangis?”

“Begini pak. Ti pak tidak perlu tahu saya pe identitas. Tapi saya ini PNS. Saya ini kepala sekolah. Malu saya pak…”

“Malu lantaran?”

“Ini pak….Saya pe papa yang ti pak kase doi minggu lalu…”

“Ooh yang pake speda hikeu-keunga itu? Biar saja ibu… Lupakan saja. So ikhlas saya.”😁

Ibu yang menelpon itu agak cerewet. Dari dia saya dapat cerita ini. Ternyata kakek itu setelah pulang dari rumahku dia bercerita dimana², “Pigi kasana ngoni pa te Elnino. Napa kita dia kase doi, dengan syarat tidak bapilih pa dia. Dasar caleg gila…”

“Begitu pak,” kata si ibu penelpon. Tangisnya mulai mereda. Lanjutnya pula, “Tapi kan cuma saya pe papa yang basumpah tidak pilih pa ti pak… torang kan boleh.”😃

“Bebas bu…,” jawab saya 😁.

Saudara² sekalian, desa itu belum pernah saya datangi. Tapi di TPS di desa itu saya dicoblos oleh 82 orang. Itu banyak, sebab satu TPS berisikan 300 an pemilih dan juga ratusan caleg.

Rupanya ibu penelpon tadi mengkonsolodasi semua orang yang badengar pa dia untuk mencoblos Elnino.😁😃

Pelajaran dari sini, kebaikan kecil yang engkau lakukan selalu oleh Allah SWT balas berlipat-lipat, kalau bukan di dunia ya di akhirat. Begitu juga keburukan kecil yang dibiasakan. 🙂

Start typing and press Enter to search