SOPIRKU

Sopirku menghentikan mobil. Diberinya kesempatan belok kanan kendaraan dari arah berlawanan. Tetapi seorang pengendara motor memberi aba-aba kepada sopirku itu untuk maju berlalu sebelum dia belok kanan memotong jalur kami.

Mobil kami diam saja. Si pengendara motor berteriak, “Maju, pak… Maju, pak…”. Sopirku diam saja.

Semakin kuat teriaknya, kening si pengendara motor itu mulai berkerut, tetapi mobil kami tidak beranjak. Sopirku menurunkan kaca jendela. “Kamu lah yang maju…,” tukasnya sambil tersenyum.

Tiba-tiba saja si pengendara motor merapatkan dua telapak tangannya di atas kepalanya sambil membungkuk. “Inggih…pak Wali…. Maaf pak Wali…!” ungkapnya berulang-ulang, cengengesan. Seketika meledak tawa keras dari orang di sekitar, termasuk kami yang ada dalam mobil.

Si pengendara motor benar-benar kecele kali ini. Dia tak menyangka, sopirku itu adalah Walikota yang sedang memimpin daerahnya, walikota yang telah dia pilih.

Suatu pengalaman di Tarakan, sebuah kota yang sangat maju di Kalimantan Timur, itu membuat saya malu diri. Seorang putra Tarakan, Udin Hianggio, kelahiran Sipatana Tanggikiki, seakan menempeleng relung-relung hati saya. Ya, dialah Walikota Tarakan periode 2009-2014.

Memimpin dan mengelola Pemkot Tarakan yang setiap tahunnya memegang anggaran anggaran yg jauh lebih banyak daripada APBD Provinsi Gorontalo, Udin Hianggio masih tampak sederhana.

Baju batiknya sederhana, sandalnya sederhana, jam tangannya sederhana, bahkan hape-nya pun berharga Rp. 500 ribuan.

Dia menyapa berkeliling kota menyetir sendiri mobil dinas Innova yang menjadi fasilitasnya sebagai walikota.

***

Sebelum liburan panjang tahun baru Imlek, Walikota Tarakan meminta saya datang ke kotanya. “Delo pona’o pomayi ode Tarakan… Meme’i-bilohi porkombangan lo u dulo tawunu u tilolaandlo ma’o,” ungkapnya. Maklum, terakhir saya ke Tarakan adalah di 2009 ketika menghadiri pelantikannya sebagai Walikota di sana.

Tak pernah saya membayangkan sebelumnya, seorang walikota rela menjadi sopir saya sekaligus pemandu wisaya bagi saya, tanpa pengawalan, tanpa ajudan, tanpa preman di sampingnya. Walikota yang mencanangkan “cukup 1 periode” itu berpenampilan sama persis seperti sebelum menjadi walikota.

***

Kami berjalan-jalan hampir seharian penuh, melihat gedung-gedung sekolah yang telah dan sedang dibangun mentereng lengkap dengan fasilitasnya, menengok Universitas Borneo yang selalu dibantu Pemkot, ke pantai yang menjadi lokasi pembangunan pusat rekreasi dan hiburan, hutan dalam kota, masjid agung, gedung pemuda, dan mampir di warung kopi.

Saya mesti mengakui, kota ini semakin maju baik secara fisik maupun mindset (polapikir)-nya. Guru-guru disayangi, diberi tunjangan dari Pemkot yang cukup, dan seluruh PNS dan guru bekerja dalam ketentraman dan bekerja dengan ikhlas serta professional.

Beberapa kali berinteraksi dengan para PNS dan guru di Tarakan, mereka menyatakan tidak setuju dengan perkembangan ide saya untuk mengembalikan (lagi) guru ke pemerintah pusat. Tampaknya mereka nyaman dengan pemimpin/walikotanya.

***

Sopirku—Walikota Tarakan itu—menghentikan mobil di pinggir jalan. Dia mengajak saya turun. Karena dia turun di sebelah kanan, sebuah truk dari belakang membunyikan klakson panjang. Pak Udin Hianggio buru-buru menepi. Rupanya truk itu bermuatkan puluhan anak-anak usia belasan.

“Pak wali….!” serentak anak-anak itu setengah berteriak menyapanya, seakan-akan si pak wali itu adalah bapak mereka. Walikota Udin Hianggio tersenyum melambaikan tangan. Dan anak-anak itu pun melambaikan tangan—sebagian di antara mereka sambil berjingkrak di atas truk yang berlalu tersebut.

Bagi orang Tarakan, mungkin peristiwa-peristiwa kecil itu adalah hal biasa. Tetapi bagi saya, hal-hal kecil itu adalah pelajaran-pelajaran besar tentang kehidupan.

Start typing and press Enter to search