DITAKUTI TAPI TAK DICINTAI

Seorang penguasa selalu menyadari apakah dia dicintai atau ditakuti. Penguasa selalu dianugerahi kepekaan akan itu.

Iwan Bokings (Bupati Boalemo 2001 – 2012) adalah tipikal pemimpin yang rakyatnya mencintainya. Rakyat tidak takut padanya. Hampir setiap hari di masa itu ada saja unjuk rasa di alun-alun Tilamuta menunjukkan protes kepada Pemda. Tetapi Bupati Iwan mampu meluluhkan hati sebagian besar rakyatnya, juga mengakomodir para pendemo untuk bersepakat dalam melakukan perbaikan. Pak Iwan tahu, tepatnya — tau persis, betapa rakyat lebih banyak yang mencintainya daripada yang takut padanya.

Walikota Medi Botutihe (1998 – 2008) juga tahu persis bahwa lebih banyak yang menyayanginya daripada yang takut padanya. Pemimpin yang sering bercanda bebas dengan anak buahnya maupun dengan rakyat yg bertamu ke walikota. (Catatan: Sy pernah ingatkan beliau agar jangan terlalu sering tertawa dengan orang, tapi beliau bilang, “Kalau ente tidak suka tatawa, jang tatawa…😃“).

Di tempat dan waktu yang berbeda, ada juga para pemimpin yang tahu persis, atau sadar, bahwa dia lebih ditakuti daripada disayangi rakyat. Mungkin sekali dia adalah pemimpin yang adil, tetapi karakternyalah yg membuatnya lebih ditakuti daripada dicintai.

Sekarang ada lagi varitas baru pemimpin, yaitu mereka yg dicintai maupun ditakuti karena perilaku anakbuahnya. Ini terjadi karena si pemimpin benar2 tak sampai di hati rakyat. Dia tak tahu apa isi hati rakyat. Dia pikir rakyat cinta sama dia, padahal rakyat takut sama dia sehingga terpaksa koprol saja ke dia.😁😃

Pemimpin jenis baru ini hanya datang ke acara/kegiatan resmi saja, dimana dihadiri oleh banyak rakyat. Lalu dia pidato di situ. Dia mendengar tepuk tangan untuknya. Dia pikir, itulah bukti rakyat mencintainya atau setidaknya mengaguminya. 😃

Lalu karena itu dia merasa cukup untuk berdiskusi dengan kalangan tertentu saja, seperti sekda, asisten, kepala dinas, camat, dan sekali2 kades. Diskusinya pun bukan seperti obrolan antar sahabat — seperti yg dilakukan oleh Iwan Bokings maupun Medi Botutihe, tetapi lebih terasa seperti rapat antar atasan dan bawahan. Atasan bicara, lalu bawahan membenarkan walaupun dirasakannya salah.

Seringkali, si bawahan memberikan masukan kepada sang pemimpin, seakan2 itu untuk kepentingan si pemimpin, padahal itu hanya untuk kepentingan si bawahan itu sendiri. Kerap pemimpin tak menyadari ini.

Para bawahan koprol yang ada di sekitar pemimpin inilah yang menjadi hijab antara hati pemimpin dan hati rakyat.

Dengan tujuan agar dianggap loyal kepada Bupati incumbent, misalnya, seorang camat melarang-larang para kepala desa menghadiri kegiatan politisi dari partai lain, juga melarang menggunakan kantor desa untuk kegiatan itu. Dia tak peduli bahwa perintahnya itu bisa membuahkan kurungan penjara baginya. Yang penting, dia dianggap loyalis supaya besok2 bisa naik jabatan. 😃🙈

Kadang penguasa tak sadar betapa birokrasi bawahannya jauh lebih dzolim kepada rakyat, membuat rakyat membenci si penguasa dengan sebenci-bencinya. Rakyat melakukan perintah pemimpin hanya karena takutnya, bukan karena cintanya.

Bagaimana jika si penguasa itu berganti? Para anakbuah yang tadinya dia pikir akan loyal seterusnya padanya, pasti berubah haluan. Mereka akan koprol — dan tentu juga loyal — pada penguasa yang baru. Hati para bawahan itu berkata, “Aku tak peduli siapa yg berkuasa, yg penting adlh karirku sendiri.” 😁😀

Be careful, Eeyanggu. 😊 The traitors are around you
.. 😊

Start typing and press Enter to search