IKUT AKU, ATAU MUSUH

“With us or against us,” kata presiden George Bush suatu ketika. Artinya ya mirip dengan judul kita kali ini. Seseorang yang ingin memaksakan pendapatnya kepada orang lain, di era medsos ini, adalah dengan memasuki laman/akun orang lain, lalu membanjiri isinya dengan apa yang dia inginkan.

Bila orang lain yang punya akun keberatan, maka si “George Bush” kecil itu akan menganggapnya musuh yang harus diperangi lewat medsos. Sebab, si Bush kecil²an ini merasa benar sendiri.

Di jaman kebenaran dan fitnah yang menjadi kabur, zaman citra lebih penting dari substansi aslinya, di masa kemasan botol lebih banyak dibicarakan ketimbang isi botol, di jaman itulah sebagian orang yang “komen dulu, kebenaran belakangan”.

Inilah yang menjadi concern saya sejak awal, terutama di ranah politik. Politik, sadar atau tanpa sadar, membelah rakyat antara kawan dan musuh. Berkelompoklah orang sesuai kepentingannya masing², lalu ‘saling sengketa’ satu dengan yang lain.

Tidak bisakah kita menjaga tali silaturrahim sesama anak bangsa walaupun beda pendapat itu keniscayaan? Persatuan negeri ini ada di pikiran kita. Selama kita bisa menghargai orang yang berbeda, selama itu Republik Indonesia berdiri kokoh.

Kita bukan George Bush yang memusuhi orang yang tidak sejalan dengannya. Kita orang Melayu lebih mengutamakan adab daripada ilmu. Orang Melayu selalu menghormati siapa pun yang pernah berjasa untuknya. Itu adalah adab yg sangat sensitif di hati.

Saya dan pak Suharso Monoarfa adalah murid dan guru. Beliau memberi saya jalan untuk keluar dari lumpur, sejak saya masih mahasiswa.

Di kemudian hari kami berbeda partai, beda pilihan presiden, beda banyak hal. Alhamdulillah sejauh ini silaturrahim di antara kami tetap terjaga. Tak pernah saling menyalahkan, tak pernah saling memaksakan.

Sebab, kami sadar, kami bukan George Bush yang merasa benar sendiri. Kami sadar, bahwa negeri ini, daerah ini hanya bisa maju dengan berkolaborasinya semua potensi kekuatan yang ada.

Start typing and press Enter to search