KEKUATAN DOA

Di pertengahan tahun 2003, alhamdulillah saya terpilih sebagai anggota KPUD Kota Gorontalo. Sibuk pasti. Sebab Pemilu 2004 sangat dekat. Tahapan Pemilu sudah berjalan.

Berjumpalah sy dengan Om Henk Uno, ayah bang Sandiaga, yg sdg pulkam. “Biar ente ini pejabat di KPUD, mikir dong untuk masa depanmu. Sana kamu cari beasiswa untuk sekolah di luar negeri. Sayang orang seperti kamu, Nin, kalau cuma nyo’o-nyo’o di Gorontalo terus,” kata Om Henk yang kemudian kalimat itu laten mengganggu pikiran saya.

Bulan depannya berjumpa dengan Ka Aga ak. Rahman Dako yang telah lulus beasiswa ke University of Hawaii, USA. “Apply saja beasiswa uti. Ente ini punya potensi bagus,” ujarnya. Itu juga mengganggu pikiran saya.

Sesungguhnya sy tidak PD. Merasa diri gak mampu. Mengidap penyakit minderwarderheist complex 😁😃. Apalagi kemampuan sy berbahasa Inggris gitu-gitu aja; hanya bisa mengerti, tak bisa ngomong.

Tapi dorongan dari kedua tokoh itu, dan juga semangat dan doa dari mantan pacar sy, Umin Kango, akhirnya sy mengirimkan permohonan ke berbagai lembaga untuk ikut seleksi beasiswa yg kuliahnya di luar negeri.

Kenangan pertemuan alumni IFP pada tahun 2008.

Tak tanggung2, ada 12 surat aplikasi yg sy kirim melalui email ke 12 lembaga beasiswa seperti Fullbright, ADS, IFP-FF di IIEF, dan lain2. “Mudah2an dari selusin surat ini, ada satu yang nyantol,” doa istriku sambil berbisik.

Sekitar sebulan sy menunggu, tak ada satu pun kabar sy terima. “Ya sudah, insyaallah tahun depan aku coba lagi,” pikirku.

Rupanya setelah 3 bulan baru aku terima email balasan dari IIEF. “Mohon diisi formulir berikut ini secara lengkap,” begitu inti suratnya. Sebetulnya sy tak terlalu bersemangat lagi, mood-nya berkurang. Sudah 3 bulan, hampir sy lupa bahwa sy pernah kirim aplikasi. 😁

Tapi tetap sy isi formulir itu. Sekitar 15 halaman untuk versi Bahasa Indonesia, dan sama tebalnya utk versi English. Sy minta bantuan Dewi Dama, lulusan jurusan Bahasa Inggris UNG, dlm membuat versi English-nya. “Tenang saja, ayah. Insyaallah mo lulus ini,” istriku sangat yakin.

Betul juga. Tiga bulan kemudian sy terima email undangan untuk mengikuti tahap selanjutnya, yaitu tes TOEFL, di Manado. Huwaduh, ini dia yg paling sulit. Maka sy minta tolong Dewi lagi utk kursus singkat English.

Buku pelajaran TOEFL yg tebal itu tak mungkin Sy habiskan, padahal waktu tes tinggal seminggu lagi.

Dengan hampir putus asa, sy ke Manado. Sy ikut TOEFL berupa 50 soal listening, 50 soal grammar, dan 50 soal reading. Total 150 soal pilihan ganda.

Lembar jawaban sy masih banyak yg kosong ketika waktu tes tersisa 10 menit lagi. Hanya sekitar 50 soal yg sudah terjawab. Sisanya belum.

Ketika sy pasrah. Sy putuskan utk menutup lembaran soalnya. Dan sisa waktu itu sy pakai untuk menghitamkan bulatan di lembar jawaban yg masih kosong. Semuanya sy isi dengan pilihan “B”.

Ketika waktu habis, sy baru sadar bahwa di lembaran jawaban itu terdapat 160 nomor, sementara soal hanya 150. Berarti yg sy hitami sudah kelebihan 10 soal. 😁😃. Buru2 kupinjam penghapus di kawan sebelah, lalu menghapus jawaban 151-160. 😃🙈

Pulang dari Manado, sy tak lagi berharap. Lagi2 istri sy yg bilang, “Insyaallah lulus…Aamiin… Tenang saja…”

Aneh juga yah… Sekitar dua bulan kemudian sy dapat email bahwa sy termasuk calon yang melaju ke tahap selanjutnya, yaitu tes wawancara di Makassar.

Ini lebih repot lagi. Saya baru tahu, wawancaranya dalam bahasa Inggris dan pewawancaranya adalah tiga profesor ngetop di Makassar yg juga lulusan luar negeri. Wah, ngeri…🙈

Hanya seminggu waktu sy mempersiapkan diri. Lima hari berturut2 sy diajar Dewi utk bisa ngomong bahasa Inggris. Pada akhirnya sy pasrah karena merasa tak mampu. Iyalah… mana bisa seminggu bisa jago ngomong English.

Akhirnya, di secarik kertas sy menulis kalimat, “Saya tidak lancar berbahasa Inggris, jadi lebih baik saya jawab pertanyaan Anda dengan bahasa Indonesia.”

Lalu sy sodorkan kertas itu ke Dewi, “Co ti Dewi tulis kamari depe bahasa Inggris kalimat ini.”

Dewi menulis, “I am not good in English, so I would rather to answer your question in Bahasa.”

“Oke. Bagitu saja, Wi. Ana so mo hapal mati ini kalimat. Itu saja cukup. So boleh itu,” kata saya. Dewi hanya ketawa bercampur bingung.

Sepanjang perjalanan ke Makassar, sy mengulang2 kalimat itu supaya hafal dengan lancar.

Tibalah saat wawancara. Seorang profesor bertanya, “What is the differences between communication and linguistic?”

Saya mengerti pertanyaannya, tapi gak bisa menjawab dalam bahasa Inggris. Maka, keluarlah kalimat yg menjadi jimat sy itu.

“I am sorry, prof. I am not good in English, so I would rather to answer your question in Bahasa.”

Ketiga profesor serempak berkata, “But you speak English very well…” sambil mengernyitkan dahi.

“Itu sudah sy hapalin, prof. Maaf… Cuma itu yg sy hafal.”

Mendadak para profesor ini tertawa keras. Panitia seleksi yg ada di situ juga tertawa. Ya sudah, sy ikut tertawa 😁😃😃

Syukurlah. Para profesor ini mempersilahkan sy menjawab dalam bahasa Indonesia untuk semua pertanyaan mereka. 👍😁👍

Sepulang dari Makassar, sy ceritakan semuanya ke istri sy. Dan ini yg dia bilang, “Insyallah lulus… Takdir sering di luar perkiraan, kan… Torang berdoa saja.”

Pengalaman ini bagi sy luar biasa. Usai tahapan Makassar, masih ada pleno panitia nasional yaitu IIEF, lalu pleno panitia pusat IIE yg bermarkas di New York. Awal tahun 2005 sy dinyatakan sebagai “Fellow Elect untuk International Fellowship Program Ford Foundation.”

Syukur yg luar biasa sy kepada Allah yang mengajariku tentang betapa dahsyatnya kekuatan doa. Saat itu sy jarang berdoa utk diri sendiri, tapi istri sy berdoa utk kami sekeluarga dan doa itu diijabah Allah.

Akhirul kisah, sy diterima di University of Ohio, namun kemudian sy memilih berkuliah di Universitas Indonesia supaya lebih mudah berjumpa dengan istri dan Ridha, anak kami. Sy ke University of Arkansas ketika di ambang lulus S2 di UI. Di sana sy belajar lagi English, dan juga mengikuti program pelatihan Leadership, selama summer class.

Subhanallah wa-lhamdulillaah wa laa hawla wa laa quwwata illaa billaah 🙏🙏

Start typing and press Enter to search